Sabtu, 28 Agustus 2010

pelukan di bawah hujan

Pelukan Dibawah Hujan

Oleh: Michael



“Hang, Hang, bangun...” ku dengar suara lembut di telingaku “sudah telat Hang…” sekejap ku langsung dan hanya dapat melihat cahaya oranye diatas kepalaku, lalu duduk dan melihat sebuah benda lingkaran seperti piring yang memutarkan tiga buah jarum yang terus berdetak “astaga!” aku terpekik. “Hang kamu mandi sana,” ya, suara lembut itu datang dari wanita cantik pertama yang ku kenal dalam hidupku.

Setelah semuanya beres, tidak lupa aku duduk dan mengucapkan selamat pagi kepada Tuhanku. Harumnya masuk dihidung, seperti pagi kemarin, sebuah telur dadar dibuatkan oleh mamaku, aku yakin rasanya pasti enak karena dibuat dengan sepenuh hati. “Aku berangkat Ma!” kataku beranjak ke luar, “ya.” Jawab mamaku dengan lembut.

Sampai di sekolah bagaikan sampai disebuah pit stop Formula One, hal itu wajar, kita semua tahu bagaimana rasanya jalan kaki sejauh satu setengah kilometer dengan berjalan kaki. “Hang aku mau tanya donk,” seperti baru mendapat durian runtuh, alangkah indahnya pagi itu disapa seorang malaikat yang cantik, “proses integral ini seperti apa, Hang?” wah!! Dia menyebut namaku dengan nada suaranya yang manja, saat itu aku hanya terpaku memandangi pipinya yang kemerahan dan mata coklatnya yang indah, “aduh!” kataku spontan, aku baru tersadar dari lamunanku, “abis kamu ngeliad aku kayak gitu,” pipinya makin merah, “iya, iya yang mana?”

“yang ini,” nada suaranya yang manja yang paling aku suka darinya. Tidak lama setelah Diana menanyakan soal integral itu, bel sekolah berbunyi.

Pulang sekolah, “Bro, makan yuk?” kata seorang lelaki yang tinggi dan bertubuh bagus itu, “Aduh, lu tau kan ,Bro ?”

“Gua bayarin!” katanya kepadaku. Di warung tegal dekat sekolah itu kami berbincang-bincang, kami memang dekat karena kami sama-sama pelayanan di gereja, Rico pelayanan di bagian drum sedangkan aku sendiri di bagian gitar dan vocal. “Bro, gua butuh bantuan lu,”

“kenapa, Bro?” kataku sambil menyantap bala-bala di piringku, “gua ada…” walaupun air mukanya tidak menunjukan kesedihan sama sekali aku tahu bahwa sahabatku itu sedang ada masalah yang cukup berat dari nada bicaranya yang minor, “cerita aja” kataku, “gini, ortu gua gak mau gua pelayanan lagi,”

“kenapa?”

“gua gak boleh di gereja lagi, Bro,”

“gimana ya?” aku cukup bingung dengan masalah ini karena keluarga Rico memang belum prcaya pada Kristus, “makanya gua nanya lu, Bro,” balas Rico, “doa aja, Bro, kayaknya cuma itu caranya.”

“doa’in gua juga ya? Gua butuh support lu nie?”

“iya, iya.”

Sampai di rumah aku tidak jalan lagi karena aku diantar Rico. “Thanks, Ric!” kataku, tiba-tiba sebuah kendaraan beroda empat datang dan berhenti persis di depan rumahku, “Hang,” suara manja itu terdengar lagi, “kamu bisa main gitar kan?”

“sedikit,” ujarku tersenyum, “besok aku mau nyanyi di gereja, kamu bantu aku ya?”

“boleh,”

“latihannya Jum’at ya?”

“dimana?”

“rumahku.” Dia langsung naik mobil yang mengantarnya tadi. Kulihat Rico tersenyum, “wah, mana tahan!” katanya.

Matahari bersinar menembus jendela-jendela kelasku – XII IPS 1. Sekolah Kristen Tangerang adalah tempatku menimba ilmu, dari aku SD sekolah ini memberikan beasiswa kepadaku, selain karena kepergian papaku yang sudah lama, nilai-nilaiku cukup untuk itu. Mendengar suara Ibu Dwiyanti adalah suatu berkat bagiku, karena dia adalah seseorang yang dapat menanamkan hamper semua konsep matematika yang ku pahami hingga saat ini. Sambil belajar terkadang aku mencuri-curi kesempatan melihat wajah Diana, tidak tahu kenapa aku suka sekali dengan wajahnya yang memerah ketika tersenyum atau tertawa.

Langit mulai kemerahan ketika aku sedang berjalan kerumah, ketika sedang berjalan aku mendengar suara yang tidak asing lagi, suara yang keluar dari mesin bekapasitas dua ratus lima puluh cc dan terbagi dalam dua silinder dengan paduan knalpot Yokohama. “Hang!” suara si pengendara motor terselubung oleh suara motornya, “ya, Ric, kenapa?”

“m….. ….k……” aku hanya melihat mulutnya bergumam dibalik suara motor Ninja 250R-nya, “matiin dulu motor lu!” aku berusaha berteriak melawan suara motor tersebut, dia langsung memutar kuncinya ke posisi off, “makan yuk?” katanya, “gua sibuk ,Bro, mama gua lagi ada order banyak.”

“wah gitu ya? Ya udah deh, gua balik ya!” dia memutar kunci, lalu menekan tombol starter motornya, suara bising motornya terdengar hingga komplek sebelah.

Aku dalam ruangan, dan sedang memegang setumpuk gumpalan campuran dari tepung, telur, air, dan garam yang tentu saja di takar dengan ukuran tertentu dan di aduk hingga kalis. “Hang, kamu cape?” kata seorang wanita yang bernama Lusia Hang, wajahnya terlihat sedikit lelah namun itu semua tertutupi oleh senyumannya yang tidak pudar. “Nggak, Ma, aku gak cape,” balasku, “ada PR nggak?” kata mamaku dengan lembut, “udah dikerjain.” Lalu kami tenggelam lagi dalam keheningan sambil mengerjakan pesanan kue untuk tetangga kami.

“Grrrrrr, grrrrrrrrrr” dimeja kamarku bergetar sebuah benda kecil bertuliskan “esia”. Aku berusaha melihat layar yang berukuran satu inci itu, namun pandangan ku kabur, ku jawab saja “Hang…” suara manja yang terdengar tidak asing itu terdengar dari seberang, “oh, ya, siapa ya?”

“dih… masa sih nggak tau?”

“ummm, Felix ya? Iya kuenya udah jadi kok, lu tinggal ambil aja,” aku masih setengah sadar, “ini, Diana!! Udah jam enam pagi kamu belum bangun?! Nanti telat kamu!” mataku spontan terbuka karena suara itu berubah nadanya. “oh ya! Kenapa ,Di?”

“inget nanti malem ya??”

“oh, nanti malem. Emangnya hari ini hari Jum’at ya?”

“tuh kan? Becanda lagi?” telepon tertutup aku hanya tersenyum, aku suka mendengar suara manjanya.

Aku seperti berada di istana. Aku melihat jam dinding mewah diatas perapian menunjukan pukul 19.12, namun sang putri belum keluar dari kamarnya. Aku ditemani dua orang yang penampilannya lebih elegan dibanding aku, yang satu rambutnya sedikit lebih panjang dan mengenakan kaus bertuliskan “reebok” sepatu yang dia gunakan pun sama. Kalau pria yang satunya lebih cuek, rambutnya pendek dan dia mengenakan kaus bertuliskan “Freedooooom!” dan dia sangat sibuk memainkan iPhone miliknya, mungkin itu yang dimaksudnya “merdeka”. “Hai,” kata yang rambutnya panjang menyapaku, “lu juga nemenin ,Ana nyanyi besok?” lanjutnya. “Nggak, saya di ajak, Kak,”balasku. “Oh ya, panggil Victor aja, yang itu Sam,” balasnya. “Samuel.” Kata pria yang sibuk main iPhone itu. “Nama saya Hang, Kak, Michael Hangkaya Tjan.”

“Lama ya?” suara dari jauh, kedengarannya dari lantai dua. Perempuan cantik itu langsung menarik tanganku dan bilang, “Ayo,” yang lain terlihat sedikit kaget melihat dia memegang tanganku apa lagi Sam dia langsung mengalihkan perhatiannya pada wanita muda yang saat itu memakai hot pants. “oh ya udah kenalan belum kalian?” kata Diana, “udah” lanjut Sam dengan tegas.

Setelah itu, aku pulang jam 22.13, langsung tidur dan paginya aku bangun jam 04.33, saat seperti itu aku manfaatkan untuk berdoa kepada Bapaku Yang di Surga, Dialah Tuhanku, Yesus. Pagi itu tidak seperti pagi yang sebelumnya. Pagi itu mamaku belum bangun, dan belum menyiapkan sarapanku. Tenyata mamaku masih tidur, badannya panas, “ya ,Tuhan, mamaku sakit.” Kataku dalam hati.

Aku memutuskan tidak masuk sekolah, ketika itu aku hanya termenung menjaga mamaku sambil mengompresnya dengan air dingin, dan memberinya minum. Aku merawat pahlawanku hingga aku sendiri lemas karena lupa makan, namun rasa lemas dan sakit di perut tidak sebesar rasa khawatirku pada pahlawan yang terkulai lemas di tempat tidurnya. Aku sanggat khawatir aku hanya dapat membelikan mama obat penurun panas yang ada di warung, Karena aku tidak ada uang sama sekali.

“Grrrrr,Grrrrrr” aku terbangun dari tidurku, aku tidak tahu kalau aku tertidur diatas kaki mamaku. Aku kembali melihat handphoneku, dan menjawab telepon yang masuk. Ternyata telepon dari Hendry Rimawan, teman sekelasku waktu kelas XI, dia bilang kalau Diana mencariku terus. Setelah telepon ditutup, aku memberi mamaku makan nasi plus garam – menu yang biasa dia buat ketika aku sakit.

Sudah lima hari sejak mamaku sakit, namun hebatnya selama lima hari tersebut ada orang yang tidak dikenal yang menaruh bungkusan di depan pagarku ketika pagi-pagi sekali, dan tenyata isi dari bungkusan itu adalah obat dan buah-buahan, jadi aku tidak pernah menegur orang itu dan hanya mengucap syukur kepada Tuhan.

Pagi itu aku sudah dapat masuk ke sekolah lagi sebab mamaku sudah sembuh dan pelajaran menumpuk di hadapanku. Sesampainya di sekolah, belum sempat melepas lelah, ada sesosok perempuan yang menunggu di depan pintu kelas namun perempuan ini terlihatr muram, PLAK!! Suara satu tamparan mendarat di pipi kiriku, suaranya terdengar hingga sepanjang koridor dan membuat semua orang disana freeze, pipiku masih terasa panas dan sepertinya cincin yang ada di tangan perempuan bersuara manja tersebut menggores pipi kiriku. Perlahan-lahan air matanya turun ke arah pipinya yang berwarna merah padam, dia hanya melempar sebuah bola kertas. Pelan-pelan kubuka, kubaca isinya…



“jangan lo kePDan! Kalo gua mau manggung sama lu kemaren!”



Sepulang sekolah aku hanya berjalan lemas. Sampai di kamar aku hanya berlutut. “ya,Bapa, apa aku pernah fitnah orang lain, atau, aku bersalah padaMu?” kuingat sebuah ayat alkitab, yaitu Mazmur 51:19

“Kurban bagi Allah adalah hati yang remuk redam, hati yang tunduk dan bertobat tidak Kau tolak.”


Ya, setidaknya aku dapat mempersembahkan hati yang remuk sebagai persembahan yang harum bagiNya. Perlahan air mataku menetes dan semakin deras, aku hanya tenggelam dalam tangisan di dalam kamarku.

Pagi ini perempuan bersuara manja itu bersikap dingin, tawanya tidak kudengar akhir-akhir ini, padahal sudah seratus tujuh puluh enam jam setelah dia menampar pipiku, sampai sekarang pun aku tidak tahu siapa yang mengirim kertas itu pada Diana. Terkadang aku melihat Diana meneteskan air mata ketika sekilas melihatku, apa dia punya perasaan padaku? Aku tidak tahu. Plak! Seseorang menepuk pundakku ketika aku tenggelam dalam lamunanku. “Makan yuk?” kata orang yang baru menepuk pundakku, “gua bayarin !” padahal aku belum menjawab pertanyaannya.

Hari Sabtu, aku tidak tahu apakah aku bertemu dengannya di gereja. Sekarang aku hanya menunggu hujan berhenti, sambil duduk di teras sekolah. Nampak hal yang aneh, mobil mewah yang biasa menjemput putrinya, pergi tanpa sang putri. Hari ini Diana harusnya melakukan ekstrakulikuler dance, namun jika dia tidak datang untuk apa mobilnya ada di sekolah? Untuk absen? Aneh.

Terlewat dari itu hujan makin saja deras, dari jauh kulihat sosok Diana. Namun dia berdiri manghadap hujan. Kulihat dia jalan menembus hujan dengan berlari, ketika kumengamatinya dia terperosok di sebuah selokan, spontan aku mengejarnya dan membantunya berdiri, aku merangkulnya, “nggak apa-apa?” kataku. Dia hanya diam di tempat, lalu memegang tanganku dan ku dengar suara kecil, “aku mau pulang, temenin aku.” Aku mengantarnya dengan berjalan kaki, kami hanya berjalan perlahan, dia terus meggandeng tanganku lalu, dia berhenti di sebuah taman, “aku tau sekarang, Victor yang mengirim kertas itu, dia mengaku cemburu, lalu aku tampar dia dan dia menampar balik ke aku, rasanya sakit, Hang.”

“ya, aku tau.” Tapi aku tidak menatap matanya. Lalu dia menangis, walau aku tidak dapat membedakan tetesan air hujan dengan air matanya, dia… dia lalu menjatuhkan dirinya ke dekapanku, memelukku dengan erat, dan dinginnya hujan tidak terasa lagi, begitu hangat, ya amat hangat! “maaf, Hang sejujurnya aku sayang banget sama kamu.” Aku hanya diam tanganku terkulai lemas, seakan tidak membalas pelukannya, namun dia makin erat memelukku. Perlahan dengan tangan kanan, kudekap dia dengan lembut.

Masa-masa itu adalah masa yang paling indah dalam hidupku, masa-masa yang paling hangat yang pernah kurasakan, dibanding sekarang di Eropa, sangat dingin. Sudah enam tahun aku tidak bertemu dan tidak tahu dimana Diana, malam ini aku akan pulang karena thesis-ku sudah selesai.

Aku telah sampai di rumahku tercinta di Indonesia tentunya. Di rumah lamaku seorang wanita tua yang masih cantik menyambutku dengan ciuman di pipi. Tidak lama setelah itu, Rico datang dengan mobil Audi R8 yang suara mesinnya lebih merepotkan dibanding motornya dulu semasa SMA. “sukses, Bro?” kataku. “ya, sekarang gua cuman megang tiga perusahaan,” dia pun terpekik tertawa “hoho, mantap dah, Ric!”

“lu, Bro?”

“thesis gua udah selesai.”

Lama kami mengobrol, dan hujan turun dengan derasnya. Seorang wanita tiba-tiba masuk rumah, menarik tanganku, membawaku ke tempat dimana aku pernah merasakan kehangatan enam tahun lalu. “jangan pergi lagi…” aku mengenal suara itu, suara manjanya, mata coklatnya dan pipi merahnya. Dia memelukku lagi makin erat, dia berkata lagi dengan lembut “I’ll never let you go…” sepertinya aku akan betah di negeri khatuslistiwa ini, dan aku akan selalu menunggu musim hujan.